Senin, 30 Maret 2015

Antara Kenyataan dan Mimpi

Hatiku terkapar, menjerit kesakitan. Aku bertahan dengan orang yang kucintai dan hatiku merengek kepada orang lain untuk tetap tinggal. Orang-orang benar, logika dan perasaan tidak selalu sama, begitu pula kenyataan dan mimpi. Aku hidup denganmu dalam kenyataan, namun aku mencintai orang lain dalam mimpi. Aku seperti orang dengan dua raga yang berbeda. Aku tidak bisa meninggalkan kenyataan, namun aku juga tidak bisa mewujudkan mimpi. Lagi-lagi, hatiku terkapar membentak-bentak perasaan yang ada dihati. Jika aku adalah sebuah kapal, maka dermaga manakah yang harus aku jadikan pelabuhan?
Aku mencintaimu lebih dari yang aku inginkan, dan aku menginginkanya lebih dari sebuah harapan. Aku terjebak dalam sebuah persimpangan tanpa penunjuk jalan. Aku terjebak! Aku ingin berputar dan kembali meninggalkan persimpangan itu, tapi aku tidak bisa. Untuk kesekian kalinya, hatiku terkapar kembali, menangis sejadi-jadinya.
Aku bahagia bahwa pada kenyataannya, aku bisa berdampingan denganmu. Namun aku selalu merasa luar biasa ketika aku memimpikannya. Seketika aku menjadi orang yang munafik, aku menjalani kenyataan tanpa perasaan dan memimpikannya dengan penuh cinta. Aku yang berusaha untuk mewujudkan sebuah impian, mencoba untuk tetap bertahan dengan kenyataan. Pada akhirnya, apa yang harus aku lakukan? Atau tepatnya, apa yang harus aku pilih?