Hatiku terkapar, menjerit
kesakitan. Aku bertahan dengan orang yang kucintai dan hatiku merengek kepada
orang lain untuk tetap tinggal. Orang-orang benar, logika dan perasaan tidak
selalu sama, begitu pula kenyataan dan mimpi. Aku hidup denganmu dalam
kenyataan, namun aku mencintai orang lain dalam mimpi. Aku seperti orang dengan
dua raga yang berbeda. Aku tidak bisa meninggalkan kenyataan, namun aku juga
tidak bisa mewujudkan mimpi. Lagi-lagi, hatiku terkapar membentak-bentak
perasaan yang ada dihati. Jika aku adalah sebuah kapal, maka dermaga manakah
yang harus aku jadikan pelabuhan?
Aku mencintaimu lebih dari yang
aku inginkan, dan aku menginginkanya lebih dari sebuah harapan. Aku terjebak
dalam sebuah persimpangan tanpa penunjuk jalan. Aku terjebak! Aku ingin
berputar dan kembali meninggalkan persimpangan itu, tapi aku tidak bisa. Untuk kesekian
kalinya, hatiku terkapar kembali, menangis sejadi-jadinya.
Aku bahagia bahwa pada
kenyataannya, aku bisa berdampingan denganmu. Namun aku selalu merasa luar biasa
ketika aku memimpikannya. Seketika aku menjadi orang yang munafik, aku
menjalani kenyataan tanpa perasaan dan memimpikannya dengan penuh cinta. Aku yang
berusaha untuk mewujudkan sebuah impian, mencoba untuk tetap bertahan dengan
kenyataan. Pada akhirnya, apa yang harus aku lakukan? Atau tepatnya, apa yang
harus aku pilih?


0 komentar:
Posting Komentar